|◘|Silet meminta maaf atas penayangannya pada tanggal 7 kemarin.|◘|Obama di pastikan akan ke Indoneisa pada 9-10 NOV.|◘|Taufik Hidayat sukses dalam laga Prancis Super series|◘| Dapatkan berita aktual, hangat dan halal hanya di http://today-s.blogspot.com/

Saturday, November 6, 2010

Kesiagaan Harus di Desain Khusus..


Pendidikan kesiagaan dan antisipasi bencana selama ini lebih cenderung dilakukan secara sporadis, bukan didesain secara khusus. Mengevaluasi tiga bencana besar yang terjadi berturut-turut, yaitu Wasior, Mentawai, dan Gunung Merapi, sudah saatnya pemerintah serius memikirkan persoalan ini.



Memang sudah saatnya modul pendidikan siaga bencana itu dibuat dan melibatkan banyak SDM yang bukan hanya dari lingkup pendidikan.
-- Anita Lie

Modul-modul atau materi mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana belum ada di sekolah, termasuk sekolah-sekolah di daerah rawan bencana. Di Jakarta, khususnya di kawasan yang langganan banjir atau berpotensi di masa depan tertimpa banjir, pun tidak ada. Jika tidak bergantung pada relawan, maka selama ini pengajaran kesiapsiagaan terhadap bencana bergantung pada kreativitas guru karena pemerintah tidak menyediakannya.

"Memang sudah saatnya modul-modul pendidikan siaga bencana itu dibuat dan harus melibatkan banyak SDM yang bukan hanya dari lingkup pendidikan. Kita tak bisa lagi bertindak sporadis kalau bencana datang," ujar pakar pendidikan, Anita Lie, kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (5/11/2010).

Menurut Anita, sebetulnya tidak sulit jika pemerintah merasa belum membuat modul. Hal paling mudah dilakukan adalah mengumpulkan dan mengajak para relawan yang selama ini sudah baik dalam menjalankan tugasnya di kawasan-kawasan bencana untuk menggarap modul tersebut.

"Setelah bencana harusnya dirangkul, dibuatkan raker, atau apapun caranya untuk merumuskan modul ini. Relawan itu lebih tahu kondisi di lapangan seperti apa sehingga biarkan mereka menuliskan pengalamannya untuk dibagikan," ujarnya.

Di Jakarta, modal pendidikan kebencanaan juga dibutuhkan. Banjir, sebagai musibah paling akrab bagi warga Jakarta, juga harus diantisipasi oleh kalangan pendidik di sekolah.

Retno Listyarti, guru SMAN 13 Jakarta, mengatakan, sudah saatnya kurikulum ditinjau ulang dengan berpegang pada prioritas yang dibutuhkan anak didik. Saat ini, kurikulum Indonesia sudah terlalu berat dan beban siswa terhadap kurikulum terlalu banyak.

"Maka dari itu, walaupun disisipkan dalam pelajaran, pendidikan kebencanaan itu tampak menjadi problema, yaitu menambah beban. Tapi, kurikulum yang ada ditinjau ulang dulu, tidak bisa ditambah atau disisipkan. Sayang, pemerintah belum aware soal ini," ujarnya.


  • Kompas.com


  • 0 comments:

    Post a Comment



     

    Today Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha